Pencegahan Bayi Stunting Di Dusun Pucanganom Desa Kendal

Ngawi,

Kombes Pagi.com – Kunjungan Ibu Bupati Ngawi dr. Ana Mursyida atau akrap di panggil dr. Ana Ony Anwar Harsono di rumah warga dusun Pucanganon desa Kendal kecamatan Kendal kabupaten ngawi, dalam rangka penanggulangan pencegahan bayi stunting akibat gizi buruk yang di dampingi pihak terkait juga tim dari puskesmas Kendal.

Dalam kesempatan tersebut dr. Ana memaparkan bahwa gizi buruk merupakan salah satu hal yang menjadi masalah di kabupaten Ngawi. Pemenuhan gizi yang belum tercukupi baik sejak dalam kandungan hingga bayi lahir, dapat menyebabkan terjadinya berbagai masalah kesehatan, baik pada ibu maupun bayinya. Salah satu gangguan kesehatan yang berdampak pada bayi atau anak adalah stunting atau tubuh pendek akibat kurang gizi.
Belum ada satu pun penelitian yang menyatakan bahwa keturunan memegang faktor yang lebih penting daripada gizi dalam hal pertumbuhan fisik anak. Penelitian ini dapat menolak persepsi masyarakat pada umumnya menganggap pertumbuhan fisik sepenuhnya dipengaruhi faktor keturunan. Pemahaman keliru itu kerap menghambat sosialisasi pencegahan stunting yang semestinya dilakukan dengan upaya mencukupi kebutuhan gizi sejak anak dalam kandungan hingga usia 2 tahun.

Dari serve tahun 2018 terdapat 3 dari 10 balita di Indonesia dilaporkan mengalami stunting atau memiliki tinggi badan lebih rendah dari standar usianya. Kondisi ini jelas perlu diwaspadai. Tak hanya bertubuh pendek, efek domino pada balita yang mengalami stunting bisa lebih kompleks. Selain persoalan fisik dan perkembangan otak, balita stunting juga berpotensi menghadapi persoalan lain di luar itu. Stunting bukan berarti gizi buruk yang ditandai dengan kondisi tubuh anak yang begitu kurus.
Faktanya, yang sering kali terjadi, anak yang mengalami stunting tidak terlalu kelihatan secara fisik. Anak atau balita stunting pada umumnya terlihat normal dan sehat. Namun, jika dicermati lebih jauh ada aspek-aspek lain yang justru jadi persoalan. Di mana, anak yang mengalami stunting cenderung memiliki sistem metabolisme tubuh yang tidak optimal. Sebagai contoh, kalau anak lain bisa tumbuh ke atas, anak dengan stunting justru tumbuh ke samping. Kondisi ini kemudian berisiko terhadap penyakit tidak menular di Indonesia, seperti diabetes atau obesitas. Tak hanya itu, sayangnya, faktor stunting yang dialami sejak kecil kerap kali dapat menyulitkan anak untuk mendapatkan pekerjaan ketika dewasa karena keterbatasan kemampuan yang dimiliki.
Ahli Gizi dari Puskesmas Kendal Yatmin menambahkan, dari 10 desa yang berada di kecamatan Kendal terdapat enam posyandu yang masih aktif sedangkan untuk empat desa yang lain tidak buka karena ada warganya yang terkonfirmasi covid 19. Rincian dari kegiatan posyandu yang masih ada antara lain sebanyak 1053 bayi yang di ukur terdapat 172 bayi yang masuk kategori stunting, untuk ukuran rata-rata pendek terdapat 116 bayi dan yang sangat pendek 56 bayi. Jadi prosentase stunting di wilayah puskesmas Kendal kecamatan Kendal 16,33% dan salah satu bayi stunting nama Luqman anak dari bapak Sugiyanto dusun Karangnongko Desa Dadapan dengan usia 16 bulan dengan berat 7,6 kg tinggi 75 centi meter.
Hasil Riset Kesehatan Dasar mulai dari tahun 2018 sampai sekarang jumlah penderita stunting memang terus mengalami penurunan. Langkah pencegahan stunting di kabupaten ngawi terus dilakukan untuk menekan angka tersebut. Stunting pada anak dapat dicegah sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun atau bisa disebut juga sebagai periode 1000 hari pertama kehidupan (JK).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *