Malang, Kombes Pagi – Ucapan atau lisan merupakan salah satu faktor yang dapat membuat setiap individu maupun kelompok menjadi tersakiti, maka dari itu sudah sepantasnya setiap manusia berpikir terlebih dahulu sebelum berucap, lisan berfungsi sebagai alat untuk berkomunikasi antar sesama makhluk hidup dengan baik. Lisan jika tidak dijaga dengan baik, maka akan memicu terjadinya permasalahan yang berujung pada kesenjangan sosial dalam masyarakat salah satu bahaya lisan yang telah menyebar dan telah menjadi kebiasaan di kalangan masyarakat adalah budaya ghibah atau menggunjing. Ghibah atau menggunjing sering terjadi dalam setiap pertemuan, perkumpulan, atau acara yang lainnya, tanpa disadari pasti selalu ada orang yang membicarakan keburukan ataupun isu yang belum tentu kebenarannya tentang orang lain, yang akan memicu terjadinya perpecahan.
Budaya ghibah ini tidak terlepas dari masyarakat desa, maupun kota yang dilakukan secara lisan maupun tertulis yang terjadi pada ibu rumah tangga, para pekerja karir maupun buruh pabrik, para remaja, bapak-bapak, bahkan di kalangan lanjut usia, mereka mempunyai kebiasaan menceritakan aib orang lain ataupun isu-isu yang belum tentu kebenarannya mengenai orang yang digunjing. Ibu-ibu rumah tangga melakukan ghibah pada umumnya di waktu siang menjelang sore hari, karena sebagian besar perempuan di desa hanyalah ibu rumah tangga yang kegiatan sehari-harinya adalah memasak, merawat anak, dan mengurusi rumah berbeda dengan masyarakat kota yang sebagian waktunya dihabiskan untuk bekerja hingga sore bahkan malam hari. Keadaaan tersebut juga tidak menutup kemungkinan orang kota yang sebagian besar para pekerja untuk tidak melakukan ghibah, mereka juga melakukan ghibah pada saat jam istirahat yang biasanya dihabiskan untuk mengobrol, makan siang, ataupun sekedar bermain handphone baik itu di kafe, ataupun hanya sekedar di lingkup tempat kerja mereka.
Hal ini hampir serupa dengan yang dialami oleh para remaja, mereka menggosip pada saat jam istirahat di sekolah maupun kampus, di kafe saat berkumpul dengan teman, atau bahkan di rumah salah satu teman mereka. Berbeda dengan orang-orang desa, mereka melakukan ghibah di tempat-tempat seperti halaman rumah warga, di pos kamling, bahkan di tempat mengaji sambil menunggu anak mereka selesai mengaji. Hal yang sering dibicarakan ketika mereka menggosip sebagian besar topiknya sama, antara lain tentang perceraian, perselingkuhan, pernikahan dini, kekayaan, perkataan seseorang di media sosial, masalah iri hati, dan terkadang gosip yang dibicarakan adalah belum tentu mengenai kebenarannya. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya ghibah antara lain adalah adanya rasa dendam pada orang lain, banyaknya waktu luang dan kurangnya waktu untuk beribadah, lingkungan, perasaan iri atau dengki, selalu ingin tahu (kepo) terhadap hidup orang lain.
Munculnya perasaan dendam dan sikap benci terhadap orang lain memicu seseorang untuk membicarakan kejelekannya, sebagai pelampiasan atas rasa benci dan dendamnya pada orang tersebut. Banyaknya waktu luang dan kurangnya waktu untuk beribadah juga menjadi faktor penyebab ghibah, karena kebanyakan orang yang menggosip atau mengibah adalah mereka yang memiliki waktu luang namun tidak dimanfaatkan dengan hal-hal yang positif, waktu luang tersebut malah disia-siakan untuk membicarakan hal-hal yang tidak penting, seolah-olah mereka tidak punya pekerjaan lain dan malah asyik menggibahi orang lain tanpa henti, bahkan terkadang hingga lupa waktu untuk beribadah. Lingkungan juga berpengaruh terhadap timbulnya ghibah, lingkungan yang buruk yang ditandai dengan orang-orang yang senang bergosip maka lambat laun kita juga akan terpengaruh untuk ikut menggosip, namun sebaliknya jika kita bergaul dengan lingkungan yang baik yang selalu menanamkan perilaku yang baik pula, maka kita juga akan terpengaruh untuk berperilaku baik dan terpuji.
Faktor pemicu timbulnya gibah berikutnya adalah perasaan iri atau dengki, perasaan ini timbul ketika orang yang digosipkan memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh sang penggosip tersebut, mereka menggosipkan tentang kejelekan orang tersebut atau keluarganya yang bertujuan agar kelebihan orang tersebut bisa berpindah pada penggosip. Faktor terakhir pemicu timbulnya ghibah adalah rasa ingin tahu yang berlebih (kepo) terhadap kehidupan orang lain, kebiasaan seperti ini dapat memicu terjadinya sifat iri dan dengki yang berujung pada kegiatan menggosip. Ghibah tentunya akan berdampak negatif, seperti timbulnya permusuhan dan perpecahan, ghibah dapat menimbulkan permusuhan jika orang yang dighibahi mengetahui bahwa dirinya dijadikan sebagai objek ghibah, orang tersebut tentunya akan merasa tidak senang dengan orang yang menggibahinya tersebut yang akan berujung pada putusnya tali silaturahmi antara keduanya.
Pada kehidupan sehari-hari dalam bergaul, manusia dihadapkan dengan karakter manusia yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain, kebanyakan dari karakter mereka tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Tingkah laku maupun perkataan seseorang dapat menimbulkan pemikiran yang berbeda dalam hati kita, yang akan menimbulkan prasangka dan dari prasangka dapat memicu terjadinya ghibah, setelah ghibah maka akan menimbulkan permusuhan antar keduanya. Ghibah juga mengakibatkan terjadinya perpecahan karena setiap orang pasti tidak mau aibnya diumbar-umbar pada orang lain, sedangkan mereka yang berghibah berarti telah menceritakan sesuatu yang mungkin memalukan dan sangat dirahasiakan oleh orang yang dijadikan sebagai objek ghibah. Terjadinya hal tersebut dapat memicu adanya rasa kebencian yang akhirnya berujung pada permusuhan, perkelahian, bahkan ada yang berujung pada pembunuhan. Ghibah juga dapat berakibat merusak kehormatan orang lain, karena membuka aib seseorang secara otomatis berarti telah menghina orang tersebut, dan mencemarkan nama baiknya yang mengakibatkan kehormatan orang tersebut tercemar di masyarakat.
Ucapan atau lisan jika tidak dijaga dengan baik, ternyata juga dapat menimbulkan masalah yang cukup serius di dalam kehidupan bermasyarakat, seperti munculnya ghibah dan jika dilakukan terus menerus dapat mengakibatkan permusuhan, bahkan perpecahan pada masyarakat. Ghibah sudah menjadi kebiasaan yang sulit untuk dihilangkan, tetapi ada upaya yang dapat meminimalisir terjadinya ghibah, antara lain seperti mengisi waktu luang dengan kegiatan yang positif seperti berkebun, berkumpul dengan keluarga, membaca buku, lebih mendekatkan diri pada Allah, jadilah orang yang dapat dipercaya, selalu bersyukur atas apa yang telah kita miliki, jangan sungkan untuk mengalihkan pembicaraan ketika orang lain hendak membicarakan keburukan orang, selalu intropeksi diri dan jangan membandingan diri sendiri dengan orang lain. Lisan jika tidak dijaga dengan baik juga akan merugikan diri sendiri, ibarat pepatah mengatakan “Mulutmu Harimaumu”.
Nama : Hastuti Sukma Dewi
NIM/Kelas : 202010310311071/Sosiologi B
Mata Kuliah : Bahasa Indonesia
