Ngawi,
Kombes Pagi.com – Tikus sawah menjadi salah satu hama utama tanaman pangan, khususnya padi yang sering di jumpai di beberapa wilayah di kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur khususnya di desa Kedungprahu. Perkembangbiakan tikus yang cepat dan kemampuan merusak tanaman yang cukup parah sehingga diperlukan pengendalian.
Pemerintah Desa Kedungprahu kecamatan Padas kabupaten Ngawi, provinsi Jawa Timur menyelenggarakan gerakan pengendalian hama tikus dengan cara “Gropyok Tikus” dengan tema “Stop penggunaan arus listrik untuk jebakan tikus”, secara serempak di semua wilayah desa Kedungprahu, memanfaatkan Dana Desa Kedungprahu 2024.
Minggu Pon (21/04/2024).Sunarto kapala desa Kedungprahu memaparkan “gropyokan merupakan pengendalian tikus dengan cara mekanis dengan memburu langsung tikus yang berada pada lubang-lubang aktif dengan melakukan pengasapan (empos) dengan menggunakan unsur belerang atau membongkar lubang-lubang aktif yang memang di curigai adanya tempat bersarang tikus. Tikus yang keluar dari lubang akan diburu dan dimatikan dengan cara dipukul. Sementara tikus yang masih di dalam akan dikeluarkan dengan membongkar lubang aktif tersebut”.
Dalam kegiatan tersebut hampir semua perangkat desa Kedungprahu yang laki-laki ikut terlibat aktif. Sunarto kades Kedungprahu yang di temui awak media Kombes Pagi menyampaikan kegiatan gropyok tikus merupakan metode pengendalian tikus secara terpadu di satu sisi lubang-lubang yang di curigai tempat bersarang tikus di lakukan pembongkaran, tikus yang keluar dari lubang diburu dan dimatikan dengan cara dipukul disisi lain lubang-lubang yang di curigai sarang tikus aktif dilakukan pengasapan (empos) dengan menggunakan unsur belerang dengan cara di bakar biar keluar asap lalu di kemposkan pada lubang-lubang aktif yang memang di curigai adanya tempat bersarang tikus biar mati, untuk menekan populasi tikus yang sangat merugikan petani secara ekonomi.
“Pengendalian tikus di wilayah desa Kedungprahu dengan teknik gropyok memadukan berbagai cara dengan teknologi yang ramah lingkungan dengan pemakaian bahan yang tidak membahayakan lingkungan persawahan petani menjadi prioritas utama, disisi lain hama tikus dapat terkendali dengan ekosistem lingkungan persawahan tetap terjaga” tegas Sunarto.
Dengan gerakan gropyok tikus secara serempak diharapkan populasi tikus dapat terkendali dan musim tanam selanjutnya tikus dapat berkurang dan tidak menyebabkan kerugian pada tanaman padi para petani,” tambah Sunarto.
Ditempat terpisah, sekdes Kedungprahu Budi Agung Wibowo yang akrab di panggil Budi, sangat mendukung dan mendorong pengendalian Organisme Penggangu Tanaman (OPT) dengan tetap mengedepankan prinsip ramah lingkungan. “Gropyok tikus merupakan pengendalian hama tanaman padi cara yang aman dan efektif dan hindari cara pengendalian tikus yang berbahaya seperti penggunaan aliran listrik, itu sangat berbahaya”, tegas Budi. (JK)

