Ngawi,
Kombes Pagi.com – Desa Tawun, kecamatan Kasreman, kabupaten Ngawi, mempunyai tradisi budaya lokal bersih desa yang sudah tersohor, yaitu Ritual Keduk Beji di Taman Wisata Tawun. Sebuah kegiatan bersih-bersih mata air atau Sendang yang berada di desa Tawun yang rutin diadakan setiap tahun bertepatan hari Selasa Kliwon (6-9-2022) sesuai penghitungan tanggal Jawa. Sendang Tawun merupakan mata air yang tidak pernah kering meskipun di musim kemarau panjang.
Menurut Mbah Supomo, sesepuh desa Tawun, inti dari upacara Keduk Beji adalah melakukan pengedukkan atau pembersihan kotoran di dalam sendang dan penyileman untuk penggantian kendi yang disimpan di goa pusat mata air Sendang Tawun. Seluruh warga desa Tawun laki-laki, baik tua, muda, maupun anak-anak turun ke sendang, mengambil sampah dan daun-daun yang mengotori kolam dalam setahun terakhir.
Selama proses pembersihan sendang semua menari dan bercanda saling memukul dengan ranting sambil di iringi tabuhan gendang dengan istilah tari kecetan.
Setelah bersih di laksanakan ritual penyiraman air legen dan penyileman dan penggantian kendi di dalam pusat mata air sendang. Yang berhak menyelam dan mengganti kendi di mata air sendang adalah keturunan dari Eyang Raden Ludrojoyo, dan prosesi selanjutnya penyeberangan sesaji dari arah timur ke barat sendang Tawun,
Acara ditutup dengan do’a dan kenduri serta makan bersama berkat dari Gunungan Lanang dan Gunungan Wadon yang telah disediakan bagi warga untuk mendapatkan berkah.
Menurut Legenda ritual adat Keduk Beji Tawun berawal pada abad ke-15. Saat Ki Ageng Tawun juga disebut Ki Ageng Mentaun, menemukan mata air yang kemudian di namai Sendang Tawun. Di sekitar sendang tersebut Ki Ageng Tawun dan istri menetap hingga dikarunai dua anak, yaitu Raden Lodrojoyo dan Raden Hascaryo. Keduanya memiliki kegemaran berbeda. Raden Lodrojoyo lebih suka bertani, sedangkan Raden Hascaryo lebih mendalami ilmu kanuragan yang berguru kepada Raden Sinorowito putra Kasultanan Pajang.
Raden Hascaryo lantas diangkat menjadi senapati atau panglima perang. Menyadari tanggung jawab berat yang dipikul Raden Hascaryo, Ki Ageng Tawun memutuskan memberikan pusaka andalannya berupa selendang bernama Kyai Cinde sebagai bekal saat anaknya itu terlibat dalam peperangan antara Pajang dan Blambangan.
Sementara, Raden Lodrojoyo menjatuhkan pilihan hidup dengan mengabdi dan selalu ingin dekat serta akan membela dan membantu kepentingan warga desa Tawun yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani.
Keinginan yang sangat kuat untuk mengabdi pada kepentingan warga tercermin, saat dulu pernah terjadi kekeringan di desa tawun, untuk mengatasi hal tersebut Raden Lodrojoyo memohon izin pada ayahnya, untuk meminta petunjuk pada Yang Maha Kuasa. Setelah mendapat restu orang tuanya Ki Ageng Tawun, Raden Lodrojoyo, lantas melakukan semedi dengan bertapa kungkum dalam air di Sendang Tawun agar mendapat petunjuk dari Yang Maha Kuasa dan diberi kemudahan membantu warga yang sebagian besar sebagai petani.
Pertapaan di awali dari hari kamis kliwon malam jum’at legi, namun di tengah malam saat Raden Lodrojoyo menjalani pertapaan kungkum, semua warga di kagetkan oleh suara ledakan menggelegar. Semua warga merasa kaget dan berhamburan ke luar rumah. Mereka berbondong-bondong menuju ke sendang, asal suara ledakan, tapi semua heran dan terkejut bukan kepalang. Sontak mata mereka terbelalak penuh keheranan menyaksikan Sendang Tawun telah berpindah tempat ke sebelah utara dengan posisi yang lebih tinggi dibandingkan areal persawahan warga. Dan air sendang pun mengaliri deras ke sawah-sawah warga hingga tidak ada lagi keresahan warga karena kekeringan di musim kemarau.
Ditengah warga bersukacita, terdapat kecemasan tersendiri bagi warga desa Tawun karena bersamaan dengan suara ledakan yang mengelegar mata air sendang Tawun pindah possisi, keberadaan Raden Lodrojoyo pun raib dan tidak dapat ditemukan. Warga akhirnya beramai-ramai menguras air sendang hingga dasarnya tampak. Namun, jasad Raden Lodrojoyo tidak pernah ditemukan. Meski demikian, warga terus mencarinya hingga menginjak hari Selasa Kliwon. Masih juga jasad sang Raden Lodrojoyo tidak bisa ditemukan kaberadaanya. Untuk mengenang jasa Raden Lodrojoyo, hingga kini setiap tahun bertepatan dengan hari Selasa Kliwon selalu diadakan ritual bersih desa di lokasi sendangTawun yang sampai kini dikenal dengan Ritual Adat Keduk Beji desa Tawun.(JK)

